Wednesday, March 23, 2016

Review Puisi Joko Pinurbo


Review Puisi Joko Pinurbo
oleh : Fadilatul Ulfa Churota'ayun
 
Penulis        : Joko Pinurbo
Judul Buku  : Celana Pacar Kecilku Di Bawah Kibaran Sarung
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan      : Mei 2007
Halaman     : 219 Halaman

Joko Pinurbo, seorang sastrawan Indonesia yang lahir pada tanggal 11 Mei 1962 di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Joko Pinurbo mulai menulis puisi pada usia 20-an.  Dalam menulis puisi, ia kerap mencampur antara realitas dengan impian, hikmat dengan unsur-unsur komik, si angkuh dan si pejalan kaki, yang semua itu dapat ditemukan dalam satu baris dan diucapkan dalam satu hembusan napas. Citra reliji dapat tampil berdampingan dengan komentar-komentar berbau sosial politik pun percakapan yang intim. Karya-karya puisinya merupakan perpaduan antara naratif, ironi refleksi diri, dan kadang mengandung unsur "kenakalan".
Beberapa karya puisi Joko Pinurbo merupakan parodi dari tradisi puisi Indonesia. Selain itu ia juga gemar menggunakan pengacuan pada objek-objek yang biasa ditemukan sehari-hari seperti sarung, telepon genggam, kamar mandi, celana panjang merupakan ciri khas karyanya.
Celana Pacar Kecilku Di Bawah Kibaran Sarung  berisi sajak-sajak Joko Pinurbo yang pernah dimuat dalam "Celana", "Di Bawah Kibaran Sarung", dan "Pacarkecilku", bisa dibilang ini kumpulan puisi yang telah memperkenalkan penyairnya sebagai salah satu ikon penting dunia perpuisian Indonesia.

Di dalam buku Puisinya banyak yang menarik, unik,  buat saya yang awam soal puisi, ini adalah sesuatu yang baru dan menyegarkan. Seperti pada kutipan salah satu puisi berikut ini yang berbau sosial menceritakan kehidupan para pengamen:

Pengamen

Sepuluh orang pengamen menyerbu bus yang sedang lapar
karena hanya diisi seorang penumpang.
Ia orang bingung, duduk gelisah di pojok belakang
membaca peta yang sudah kumal dan penuh coretan.

Para pengamen yang tampak necis dan gagah bergiliran
memetik gitar dan menyanyi lantang kemudian
memungut uang dari penumpang lalu duduk berurutan.
Setelah semua mendapat bagian, gantian si penupang berdiri
di depan lantas bernyanyi dan bergoyang.

Bahkan para pengamen berwajah seram terheran-heran
lantas bertepuk tangan karena penumpang itu
ternyata dapat menyanyi lebih merdu dan menghanyutkan.
Selesai melantunkan beberapa tembang, ia memungut uang
dari para pengamen lalu berteriak stop kepada sopir kemudian
melompat turun sambil melepaskan pekik kemenagan:
"Hidup rakyat! Hidup penumpang!"

(2001)

No comments:

Post a Comment