Friday, March 25, 2016

Tugas Review Puisi

Review Puisi Joko Pinurbo
oleh: Sanik Ismata R

Kunang-Kunang
karya Joko Pinurbo
Ketika kecil ia sering diajak ayahnya bergadang
di bawah pohon cemara di atas bukit.
Ayahnya senang sekali menggendongnya
menyeberangi sungai, menyusuri jalan setapak 
yang berkelok-kelok dan menanjak.
Sampai di puncak, mereka membuat unggun api, 
berdiang, menemani malam, menjaring sepi. 
Ia sangat girang melihat kunang-kunang berpendaran.
"Kunang-kunang itu artinya apa, Yah?"
"Kunang-kunang itu artinya kenang-kenang." 
Ia terbengong, tidak paham bahwa ayahnya 
sedang mengajarinya bermain kata.

Bila ia sudah terkantuk-kantuk, si ayah segera
mengajaknya pulang, dan sebelum sampai di rumah, 
ia sudah terlelap di gendongan. 
Ayahnya menelentangkannya di atas amben tua,
lalu menaruh seekor kunang-kunang di atas keningnya.

Saat ia pamit pergi ngembara, ayahnya membekalinya
dengan sebutir kenang-kenang dalam botol. 
"Pandanglah dengan mesra kenang-kenang ini 
saat kau sedang gelap atau mati kata; 
maka kunang-kunang akan datang memberimu cahaya."

Kini ayahnya sudah ringkih dan renta.
"Aku ingin ke bukit melihat kunang-kunang.
Bisakah kau mengantarku ke sana?"
Malam-malam ia menggendong ayahnya 
menyusuri jalan setapak menuju bukit.
"Apakah pohon cemara itu masih ada, Yah?" 
tanyanya sambil terengah-engah.
"Masih. Kadang ia menanyakan kau 
dan kubilang saja: Oh, dia sudah jadi pemain kata."

"Nah, kita sudah sampai, Yah. Mari kita bikin unggun."
Si ayah tidak menyahut. Pelukannya semakin erat. 
"Tunggu, Yah, kunang-kunang sebentar lagi datang."
Si ayah tidak membalas. Tubuhnya tiba-tiba memberat.
Ia pun mengerti, si ayah tak akan bisa berkata-kata lagi.
Pelan-pelan ia lepaskan ayahnya dari gendongan.
Ketika ia baringkan jasadnya di bawah pohon cemara,
seribu kunang-kunang datang mengerubunginya, 
seribu kenang-kenang bertaburan di atas tubuhnya.
"Selamat jalan, Yah. In paradisum deducant te angeli."

(2010)
Sumber: http://jokopinurbo.blogspot.co.id/search/label/Puisi%202010 . Akses 26 Maret 2016
Review
Dalam puisi ini penulis begitu jelas menceritakan setiap makna yang terdapat pada setiap baitnya. pemilihan diksi yang diambil sangat tegas dan mudah dimengerti. Tidak seperti puisi lainnya yang memiliki diksi cukup tinggi dan susah dimengerti, Joko Pinurbo memberikan kemudahan pada penikmat puisinya dengan mempermudah bahasa yang digunakan, bahasa yang sering kita dengar sehingga penyampaian pesan penulis dapat ditangkap dengan mudah. Pengemasan bahasa yang mudah ini menjadikan khas dri sebuah karya-karyanya. Sehingga pembaca dapat ikut merasakan emosi yang sedang digambarkan oleh penulis.
Puisi ini menceritakan kembali kisah seorang anak dengan ayahnya. Seorang ayah yang senang memperlihatkan keindahan malam dengan ribuan kunang-kunang yang menemani gelapnya malam. Tidak terlepas dengan setiap kasih sayang ayah yang diberikan pada sang anak. Dimana saat dia kecil selalu digendong ayahnya menyelusuri sungai untuk mencapai bukit yang hingga kemudian sang anak menggendong jasad ayahnya menuju bukit. Ditemani kunang-kunang yang mengantarkan kenangan.

No comments:

Post a Comment